Putri dan Es Manis

Lampung merupakan kota kelahiran Putri, tepatnya di Baradatu. Putri dilahirkan oleh seorang Ibu bernama Laila dan juga memiliki seorang Ayah bernama Yusuf. Kedua orang tua Putri bertempat tinggal di Lampung sejak 3 tahun yang lalu sebelum Putri lahir sampai sekarang.

Ayah Putri bekerja sebagai seorang Guru SMP dan beliau dikenal sebagai guru yang sangat galak. Tak jarang siswa-siswi mendapatkan jeweran di kedua telinganya dari beliau jika tidak mengerjakan PR ataupun telat masuk kelas. Selain itu beliau sangat dihormati oleh para guru karena sifatnya yang begitu bijaksana dan juga perduli kepada seluruh guru dan juga para siswanya.

Ibu Putri adalah seorang ibu rumah tangga. Ibu seorang wanita yang bijaksana dan tegas. Beliau sangat menyayangi Putri karena dia adalah anak pertama dan juga seorang perempuan yang cantik dan imut. Beliau sangat memperhatikan kebersihan rumah agar suasana rumah tetap sehat dan steril, maklum saja namanya juga anak pertama.

Setiap tetangga yang ingin menyentuh, mencubit ataupun menggendong Putri, Ibu Putri mengharuskan mereka untuk segera membersihkan kedua tangan dan juga wajah. Para tetangga biasanya akan mencubit dan mencium seorang balita karena merasa sangat gemas dan gregetan, padahal tangan dan wajah mereka belum tentu bersih dan steril.

“Hallo Putri, duh gemes banget deh……”

“Eettt…..jangan mencubit Putri, kalau belum mencuci tangan dan wajah”

“Kenapa?”

“Tangan dan wajah Ibu pasti kotor dan juga berdebu. Nanti kalau Putri sakit gimana?”

“Jangan terlalu mendramatisir begitu. Kami kan tidak bermain tanah atau hal kotor yang lainnya.”

“Kalau tidak mau membersihkan tangan dan muka, kalian tidak boleh menyentuh Putri”

“Baiklah, kami akan menuruti keinginan Ibu”

“Nah, gitu dong…..”

Walaupun para tetangga pada awalnya kesal tetapi mereka akhirnya menuruti perintah Ibu Putri untuk membersihkan kedua tangan dan wajah sebelum menyentuh Putri. Putri seorang bayi perempuan yang berkulit putih, cantik dan imut jadi tidak heran jika para tetangga ingin menggendong Putri.

Sebenarnya sikap Ibu Putri termasuk wajar karena semua itu demi kesehatan Putri. Buktinya, selama 3 tahun Putri tidak pernah sakit. Namun pada saat Putri berumur sekitar 4 tahun, dia sering mengalami sakit tenggorokan atau radang tenggorokan karena sering meminum es yang sering diberikan salah satu tetangganya. Kejadian ini terjadi karena Putri sering bermain di rumah Dinda dan keluarga Dinda mempunyai kulkas yang sering digunakan untuk membuat es manis.

Dinda adalah seorang perempuan yang seumuran dengan Putri. Ayah Dinda bernama Zainal, beliau bekerja di sebuah Perusahaan Swasta. Sedangkan Ibu Dinda bernama Marwah, beliau adalah seorang wiraswasta yang memiliki warung sembako di rumahnya dan juga menjual berbagai jenis es manis. Ibu Marwah sering memberikan es manis kepada Putri jika dia sedang bermain dengan Dinda. Putri sering bermain di rumah Dinda dan sesering itu pula Putri meminum es manis. Ibu Marwah tidak keberatan jika Putri sering meminta es manis karena beliau telah menganggapnya seperti anaknya sendiri. Itulah awal mula Putri mengalami radang tenggorokan.

“Tante, aku mau es dong….”

“ Iya sayang, sebentar ya….”

“Wah, makasih tante. Emmm…enak….sruph….”

Tiba-tiba  Ibu Laila menghampiri Putri dan melarangnya minum es manis.

“Putriiiiiii, jangan minum es terus.  Boleh minum es tapi hanya 1 kali sehari”

“Tapi kan enak bunda….cobain aja, enak deh”

“Minum es manis itu tidak boleh terlalu sering sayang, nanti kamu sakit lagi”

“Kalau sakit kan bisa minum obat. Es manisnya kan enak jadi sayang banget kalau engga di minum….Bunda”

“Putriiiiiii…….”

“Iya Bunda, ada apa? Engga usah teriak, aku denger kok”

Ibu Laila langsung meninggalkan Putri dan kembali ke rumah karena beliau sudah kehilangan akal untuk menasehati Putri. Akhirnya Putri jatuh sakit karena radang tenggorokannya kambuh lagi. Kedua orang tua Putri segera membawa Putri ke dokter Hasan.

“Hai Putri. Wah, pasien dokter yang satu ini rajin sekali ke sini. Pasti radang tenggorokan lagi ya?”

“Kok dokter tau sih? Dokter bisa meramal juga ya?”

“Iya tau dong, karena Putri tiap sebulan sekali pasti ke sini untuk mengobati radang tenggorokan”

“Putri jadi malu nih….”

Kedua orang tua Putri menyarankan untuk menasehati Putri dengan sesuatu hal yang bisa membuatnya kapok dan mengurangi kebiasaan meminum es manis. Dokter Hasan berusaha untuk menasehati Putri dari hati ke hati di suatu ruangan khusus. Dokter biasanya menasehati Putri dengan kalimat yang sudah sering didengarnya. Namun kali ini Putri diberikan suatu cerita atau informasi yang bisa dipahami oleh Putrid an juga dapat mengurangi kebiasaan meminum es manis. Setelah itu, Putri dan orang tua-nya pulang ke rumah. Putri segera meminum obatnya dan beristirahat.

Esok harinya, Putri bersikap beda dari biasanya. Biasanya Putri bermain dengan Dinda dan tak ketinggalan untuk meminum es buatan Ibu Marwah. Ibu Marwah juga bingung dan merasa aneh dengan sikap Putri saat ini. Putri tidak lagi meminta es pada Ibu Marwah. Mungkin nasehat dari dokter Hasan sangat manjur dan langsung mengubah kebiasaan Putri. Jadi untuk saat ini dan seterusnya, kedua orang tua Putri merasa lebih lega karena anaknya sudah bisa mengontrol dirinya untuk mengurangi minum. Walaupun sebenarnya Putri masih kecil tetapi dia sudah bisa disiplin terhadap dirinya sendiri.

Sebenarnya orang tua Putri sangat penasaran dengan nasehat yang diberikan oleh dokter Hasan. Namun orang tua Putri tidak terlalu mempermasalahkannya, biarkan menjadi rahasia antara dokter dan pasien.

One thought on “Putri dan Es Manis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s